Wednesday, 4 January 2012
STUDY TOUR GO TO JOGJAKARTA
berawal dari tujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran Khususnya pengalaman nyata Ilmu dan Pengetahuan. yang kemudian di ejawantahkan dalam kegiatan Study Tour ke JOGJAKARTA pada Hari Ahad besok Tanggal 08 Januari 2012. semoga kegiatan tersebut menjadi kegiatan yang akan berkesan bagi peserta didik di MI Ma'arif NU 1 Kalitapen Purwojati Banyumas dan kemudian kembali pembelajaran di Semester 2 akan lebih menyenangkan dan diharapkan akan lebih bermanfaat bagi Guru, Siswa, Ustadz-Ustadz, Komite dan Semua pihak yang Mendukung adanya MI Ma'arif NU 1 Kalitapen Purwojati Banyumas.
kegiatan ini akan dimulai pada hari ahad pukul 04.30 pagi kemudian di teruskan ke obyek wisata Parangtritis dan kemudian ke BONBIN Gembiraloka dan selanjutnya ke Keraton JOGJAKARTA. serta kegiatan ini di dampingi Oleh Komite, Sebagian Orangtua siswa, Siswa, Guru dan Ustadz.
SELAMAT DATANG DI BLOG RESMI MI MA'ARIF NU 1 KALITAPEN PURWOJATI BANYUMAS JAWA TENGAH
Alhamdulillah Blog resmi MI Ma'arif NU 1 Kalitapen telah terbit Semoga Blog ini bisa menjadi Inspirasi bagi semua teman-teman guru di seluruh Indonesia agar senantiasa memberdayakan muridnya selalu Melek Informasi dan tidak GAPTEK.
Ucapa terima kasih Bagi rekan-rekan Guru MI Ma'arif NU 1 Kaliatepen yang telah bekerja sama dalam rangka mengembangkan MI Ma'arif NU 1 Kalitapen senantiasa berguna bagi Pendidikan Di Indonesia Umumnya dan Kalitapen pada Khususnya.
blog ini beralamat di www.mimakalitapen.blogspot.com bisa diakses dimanapun anda berada ketika memungkinkan memerlukan informasi tentang bagaiamana proses pendidikan di MI Ma'arif NU 1 Kaitapen.
Ucapa terima kasih Bagi rekan-rekan Guru MI Ma'arif NU 1 Kaliatepen yang telah bekerja sama dalam rangka mengembangkan MI Ma'arif NU 1 Kalitapen senantiasa berguna bagi Pendidikan Di Indonesia Umumnya dan Kalitapen pada Khususnya.
blog ini beralamat di www.mimakalitapen.blogspot.com bisa diakses dimanapun anda berada ketika memungkinkan memerlukan informasi tentang bagaiamana proses pendidikan di MI Ma'arif NU 1 Kaitapen.
PERPUSTAKAAN MI MA'ARIF NU 1 KALITAPEN KECMATAN PURWOJATI BANYUMAS JAWA TENGAH
RINCIAN TUGAS
PENGELOLA PERPUSTAKAAN
I. KEPALA SEKOLAH
Tugas Pokok : mengkordinasikan semua kegiatan perpustakaan dengan semua bidang yang ada pada perpustakaaan
II. KEPALA PERPUSTAKAAN
Tugas Pokok : Melaksanakan tugas dibidang Pengelolaan Data Elektronik, Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi berdasarkan peraturan perundang–undangan untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
Fungsi :
- Merencanakan tugas pengembangan pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika sesuai kebutuhan untuk peningkatan kinerja unit.
- Merumuskan kebijakan teknis pengembangan pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika berdasarkan program kerja sebagai dasar pelaksanaan tugas.
- Mengorganisir kegiatan pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika sesuai mekanisme kerja untuk tertibnya pelaksanaan tugas.
- Mengendalikan pelaksanaan kegiatan pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika secara terpadu untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
- Mengarahkan pelaksanaan kegiatan pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika secara berjenjang untuk peningkatan kinerja unit.
- Membina pelaksanaan kegiatan pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika baik intern dan ekstern untuk kelancaran pelaksanaan tugas unit.
- Mengawasi pelaksanan tugas pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika secara menyeluruh untuk efektivitas dan efisiensi kegiatan unit.
- Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pengelolaan data elektronik, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi dan informatika melalui pertemuan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan tugas.
- Mengkonsultasikan pelaksanaan tugas kepada atasan baik lisan maupun tertulis untuk beroleh petunjuk lebih lanjut.
- Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dengan unit terkait melalui rapat koordinasi untuk penyatuan pendapat.
- Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas secara berkala sebagai bahan evaluasi.
- Melaksanakan tugas lain yang diperintahkan oleh atasan untuk kelancaran tugas kedinasan.
III. KASUBAG ADMINISTRASI
Tugas Pokok : Melaksanakan tugas Penatausahaan dibidang Perencanaan, Program dan Pelaporan, Kepegawaian, Umum, Perlengkapan dan Kearsipan berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
Fungsi :
- Menghimpun kebijakan teknis dibidang penyusunan program, keuangan, kepegawaian, umum dan kearsipan sesuai kebutuhan sebagai dasar pelaksanaan tugas.
- Menyusun rencana kegiatan unit sesuai kebutuhan untuk menjadi program unit.
- Melaksanakan tugas pengelolaan administrasi perkantoran berdasarkan pedoman untuk peningkatan pelayanan.
- Melaksanakan tugas pengelolaan administrasi keuangan berdasarkan pedoman untuk tertibnya administrasi keuangan.
- Melaksanakan tugas pengelolaan kepegawaian berdasarkan Petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis untuk tertibnya penataan administrasi kepegawaian.
- Melaksanakan tugas pengelolaan perlengkapan dan kearsipan sesuai kebutuhan untuk kelancaran kegiatan unit.
- Mengkonsultasikan tugas dengan atasan secara lisan maupun tertulis untuk beroleh petunjuk.
- Mengkoordinasikan tugas dengan Kepala-kepala Seksi melalui rapat/pertemuan untuk penyatuan pendapat dalam pelaksanaan tugas.
- Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas secara berkala sebagai bahan evaluasi.
- Melaksanakan tugas lain yang diperintahkan oleh atasan untuk kelancaran tugas kedinasan.
IV. KASIE PELAYANAN
Tugas Pokok : Melaksanakan tugas Pengelolaan Data Elektronik berdasarkan petunjuk pelaksanaan / petunjuk teknis untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
Tugas Pokok : Melaksanakan tugas Pengelolaan Data Elektronik berdasarkan petunjuk pelaksanaan / petunjuk teknis untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
Fungsi :
- Menghimpun kebijakan teknis dibidang Pengolahan Data Elektronik sesuai kebutuhan untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
- Melakukan pendataan kegiatan unit melalui unit terkait sebagai bahan sajian informasi.
- Menyusun rencana kegiatan pengolahan data elektronik sesuai kebutuhan untuk menjadi program unit.
- Melakukan perekaman kegiatan melalui handycame untuk pengambilan gambar digital.
- Mengklasifikasi data sesuai jenis kegiatan untuk mempermudah pengolahan data.
- Mengelola data masukan melalui sistem informasi data untuk menjadi data base.
- Memelihara data elektronik melalui Up-datting data untuk pemutahiran melakukan penyimpanan data elektronik melalui file elektronik sebagai back-up data.
- Mengkonsultasikan pelaksanaan tugas dengan atasan baik lisan maupun tertulis untuk beroleh petunjuk lebih lanjut dalam pelaksanaan tugas.
- Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dengan Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Kepala-kepala Seksi melalui rapat / pertemuan untuk kesatuan pendapat dalam pelaksanaan tugas.
- Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas secara berkala sebagai bahan evaluasi.
- Melaksanakan tugas lain yang diperintahkan oleh atasan untuk kelancaran tugas kedinasan.
V. SUBAG PENGELOLAAN
Tugas Pokok : Melaksanakan tugas pengelolaan perpustakaan berdasarkan petunjuk pelaksnaan / petunjuk teknis untuk pengembangan perpustakaan daerah.
Tugas Pokok : Melaksanakan tugas pengelolaan perpustakaan berdasarkan petunjuk pelaksnaan / petunjuk teknis untuk pengembangan perpustakaan daerah.
Fungsi :
- Menghimpun kebijakan teknis pengelolaan perpustakaan sesuai kebutuhan sebagai dasar pelaksanaan tugas.
- Menyusun kebijakan teknis pengelolaan perpustakaan sesuai kebutuhan sebagai pedoman pelaksanaan tugas.
- Menyusun rencana pengembangan perpustakaan sesuai kebutuhan untuk menjadi program unit.
- Mengumpul dan menyusun bahan pustaka sesuai jenis sebagai bahan pustaka.
- Memelihara bahan pustaka secara berkesinambungan untuk kelestariaannya.
- Melakukan pengawasan bahan pustaka secara berkala untuk tertibnya bahan-bahan pustaka.
- Mengkonsultasikan pelaksanaan tugas dengan atasan baik lisan maupun tertulis untuk beroleh petunjuk lebih lanjut.
- Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dengan Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Kepala-kepala Seksi melalui rapat/pertemuan untuk kesatuan pendapat dalam pelaksanaan tugas.
- Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas secara berkala sebagai bahan evaluasi.
- Melaksanakan tugas lain yang diperintahkan oleh atasan untuk kelancaran tugas kedinasan.
VI. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pemerintah daerah sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.
PROGRAM KERJA
PROGRAM KERJA PERPUSTAKAAN
I. PENDAHULUAN
Era globalisasi sekarang ini informasi sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Sumber informasi dapat berasal dari radio, internet, surat kabar, dan media lainnya, seperti di Perpustakaan. Mendengar kata Perpustakaan orang biasanya membayangkan sederetan buku dalam rak di sebuah ruangan, Memang bayangan spontan ini betul tetapi belum lengkap, karena setumpukan buku yang di atur di rak sebuah took tidak dapat dikata sebuah Perpustakaan. Sebenarnya sesuatu itu dapat disebut sebuah Perpustakaan bila mempunyai beberapa hal yang harus ada.
1. Unsur yang harus ada adalah buku dan ruangan.
2. Di era sekarang tidak lagi terbatas koleksi buku saja, melainkan sarana lain yang dapat digunakan untuk saling bertukar informasi.
Misalnya : film, slide, microfilm, kaset, piringan hitam, mikrofis dan sebagainya. Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam dan membaca buku. Di masa mendatang, Perpustakaan dikembangkan menjadi rumah belajar modern. Perpustakaan sebagai rumah belajar modern berfungsi sebagai tempat pelestarian budaya, sumber informasi, pendidikan dan penelitian serta tempat koleksi buku. Selain itu Perpustakaan juga menjadi tempat rekreasi sehingga pengunjung/ pengguna akan betah berlama-lama di tempat tersebut. Keberadaan Perpustakaan supaya menarik pengunjung untuk datang dibutuhkan sebuah pengelolaan yang matang, baik menejemennya, system pelayanannya, penataan koleksi, dan kenyamanan lingkungan. Bahkan idealnya, Perpustakaan juga dilengkapi dengan arena bermain yang nyaman untuk anak usia sekolah seperti di SMA kita. Misalnya Internet dan audio visual yang mendukung belajar siswa.
II. FUNGSI DAN TUJUAN PERPUSTAKAAN
Perpustakaan yang didirikan oleh lembaga tertentu dipastikan mempunyai tujuan tertentu pula. Adapun fungsi Perpustakaan adalah sebagai pusat kegiatan belajar, pelayanan informasi, penelitian dan rekreasi bagi seluruh warga sekolah (C. Larasati). Sedang menurut Iwan Hermansyah fungsi Perpustakaan adalah :
a. Sumber ilmu pengetahuan yang harus digali
b. Pusat kegiatan belajar bagi setiap siswa (Studying center)
c. Pusat informasi (Information center)
d. Tempat rekreasi (Recreation Place) dalam arti refresing, tempat penyegaran otak jiwa (rohani) bahkan jasmani bagi masyarakat sekolah.
Sedangkan tujuan Perpustakaan menurut Sulistyo yang dikutip oleh Purwono (2004:5) menyatakan bahwa Perpustakaan mempunyai 4 tujuan utama yaitu :
a. Memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk membaca bahan pustaka
b. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, dan murah bagi pengunjung.
c. Membantu pengunjung untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat
d. Perpustakaan bertindak sebagai pusat kehidupan budaya bagi masyarakat sekitar.
III.VISI MISI Perpustakaan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
VISI : Terwujudnya perpustakaan yang representatif sebagai penyedia informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan agama.
MISI :
1. Memberikan layanan yang ramah, tegas, tertib dan tangkas
2. Penerapan teknologi informasi, teknologi yang pada intinya bertumpu pada konsep otomasi
3. Menjadikan perpustakaan sebagai jantungnya pendidikan sekolah
4. Meningkatkan kerjasama (resources sharing) dengan perpustakaan dan pusat informasi lain.
KOLEKSI
REFERENSI, berupa;
• Ensiklopedi (ensi) : Ensi Islam, Ensi Wayang, Ensi hamparan Dunia Ilmu(HDI), Ensi Pengetahuan Populer, Ensi matematika dan peradaban manusia, Ensi Negara dan bangsa, Ensi IPTEK, Ensi Quetions and Answer, dsb
• Kamus Bahasa, Visual, Eksak, Tafsir(Al-Misbah, Adz-Dzikraa, Al-Azar, dsb. Dan kumpulan hadits.
• Laporan, karya Ilmiah (Tesis, Skripsi, Makalah, Tugas Akhir, dll. Bundel majalah, kliping, dll
• Buku Pelajaran dari berbagai penerbit setiap mata pelajaran
FIKSI :
FIKSI :
• Novel Klasik
• Novel Remaja
• Novel Islami
Non- FIKSI
· Koran : Koran Radar Banyumas, Suara Merdeka,
· Surat kabar : Republika, Tempo, kedaulatan rakyat, jawa pos, bernas
· Tabloid : Bola, PC Plus, jurnal dan bulletin
IV. RENCANA PENGEMBANGAN
a. Fasilitas
1. Pengadaan Software Billing Internet : Rp. 2.000.000
2. Pengadaan 1 buah Printer untuk ruang internet
Merk EPSON Stylus C.90 (Infus) : Rp. 700.000
Merk EPSON Stylus C.90 (Infus) : Rp. 700.000
3. Pengadaan CCTV beserta perlengkapanya : Rp. 3.000.000
4. Pemotomg Kertas : Rp. 1.000.000
5. Labelisasi ruang perpustakaan tahap II : Rp. 1.000.000
6. Pengadaan 1 Unit Komputer Untuk Administrasi
: Rp. 7.000.000
Total : Rp14.700.000
: Rp. 7.000.000
Total : Rp14.700.000
b. Bahan Pustaka
a) Cetak
• Buku Penunjang pelajaran : Rp. 10.000.000,-
• Buku Referensi penunjang SNBI ; Rp. 5.000.000,-
• Fiksi : Rp. 3.000.000,-
• Majalah : Rp. 500.000,-
Rp. 18.500.000,
Rp. 18.500.000,
b) Non Cetak
§ CD Interaktif : Rp. 500.000,-
§ CD Program : Rp. 500.000,-
§ VCD : Rp. 1.000.000,-
Total Biaya Bahan Pustaka Cetak+Non cetak : Rp.19.500.000,-
Total Biaya Bahan Pustaka Cetak+Non cetak : Rp.19.500.000,-
3. KOLEKSI
a. Pengolahan :
Koleksi buku perpustakaan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi perpustakaan telah dibuat dan dicatat dalam buku-buku antara lain :
1. Buku Induk ( buku inventaris buku koleksi )
2. Buku pergolongan dari golongan 000 – 900
3. Buku catatan buku paket
4. Buku catatan pembelian dan hadiah
5. Buku keadaan buku mulai tahun 1990
6. Buku Induk Anggota Perpustakaan
7. Buku Pengunjung
a. Siswa
b. Guru
c. Tamu
8. Buku Klasifikasi
9. Buku catatan peminjaman
a. Peminjaman sementara
b. Peminjaman harian
10. Buku catatan pengembalian
11. Buku tamu umum dan dinas
12. Buku daftar hadir klasikal
13. Data dinding
14. Buku catatan denda terlambat pengembalian
15. Buku catatan penggunaan internet, copy CD dan Ngeprint
a. Pengolahan :
Koleksi buku perpustakaan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi perpustakaan telah dibuat dan dicatat dalam buku-buku antara lain :
1. Buku Induk ( buku inventaris buku koleksi )
2. Buku pergolongan dari golongan 000 – 900
3. Buku catatan buku paket
4. Buku catatan pembelian dan hadiah
5. Buku keadaan buku mulai tahun 1990
6. Buku Induk Anggota Perpustakaan
7. Buku Pengunjung
a. Siswa
b. Guru
c. Tamu
8. Buku Klasifikasi
9. Buku catatan peminjaman
a. Peminjaman sementara
b. Peminjaman harian
10. Buku catatan pengembalian
11. Buku tamu umum dan dinas
12. Buku daftar hadir klasikal
13. Data dinding
14. Buku catatan denda terlambat pengembalian
15. Buku catatan penggunaan internet, copy CD dan Ngeprint
o JAM BUKA PERPUSTAKAAN
a. Setiap hari jam sekolah
Pagi : 07.00 – 13.30 WIB
Sore : 13.30 – 16.00 WIB
b. Diluar hari sekolah : 08.00 – 13.00 (libur cawu, kenaikan kelas)
c. Hari libur : Ahad, hari besar Islam dan Nasional
a. Setiap hari jam sekolah
Pagi : 07.00 – 13.30 WIB
Sore : 13.30 – 16.00 WIB
b. Diluar hari sekolah : 08.00 – 13.00 (libur cawu, kenaikan kelas)
c. Hari libur : Ahad, hari besar Islam dan Nasional
Thursday, 1 December 2011
PORSENI SISWA KECAMATAN PURWOJATI
porseni adalah pekan olahraga dan seni yang di selenggarakan oleh kementerian agama terkait dengan penyelenggaraan kegiatan yang menunjang jiwa dan raga sehat bagi peserta didik. dalam waktu dekat akan diselenggarakan kegiatan PORSENI tersebut di tingkat kecamatan yang akan diselenggarakan pada tanggal 26 s.d 27 Desember bertempat di MI MUHAMADIYAH KARANG TALUN KIDUL> dalam kegiiatan tersebut akan dipilih beberapa kontingen Kecamatan purwojati yang mewakili untuk kegiatan PORSENI Kabupaten Banyumas.
diantara lomba-lombanya
1. MTQ
2. Kaligrafi
3. VOLLY BALL
4. Bulu tangkis
5. pidato 3 bahasa
6. tenis meja
7. lari
8. lompat tinggi
9. lompat jauh dll
diantara lomba-lombanya
1. MTQ
2. Kaligrafi
3. VOLLY BALL
4. Bulu tangkis
5. pidato 3 bahasa
6. tenis meja
7. lari
8. lompat tinggi
9. lompat jauh dll
MODEL PEMBELAJARAN MI MA'ARIF NU I KALITAPEN
Model Pembelajaran - Metode Mengajar“Cara mengajar yg dpt digunakan untuk semua bahan pelajaran” Misalnya:
Metode: ceramah, penemuan, ekspositori, diskusi, tanya jawab, pemecahan masalah, dsb. Teknik Mengajar“Cara mengajar yg memerlukan keahlian khusus atau bakat khusus”
Metode: ceramah, penemuan, ekspositori, diskusi, tanya jawab, pemecahan masalah, dsb. Teknik Mengajar“Cara mengajar yg memerlukan keahlian khusus atau bakat khusus”
A. Model pembelajaran dengan pendekatan induktif dan deduktif.
Kedua pendekatan ini merupakan pendekatan yang ditinjau dari interaksi antara siswa dengan bahan ajar. Kedua pendekatan ini saling bertentangan. Pendekatan deduktif merupakan suatu penalaran dari umum ke khusus, sedangkan pendekatan induktif suatu penalaran dari khusus ke umum.
- Pendekatan deduktif berdasarkan penalaran deduktif.
- Penalaran deduktif = cara berpikir menarik kesimpulan dari hal yang umum menjadi kasus yang khusus.
- Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir silogisme; terdiri dari 2 macam pernyataan yang benar dan sebuah kesimpulan (konklusi)
- Kedua pernyataan pendukung silogisme disebut premis (hipotesis): Premis Mayor dan Premis Minor.
- Kesimpulan diperoleh sebagai hasil penalaran deduktif berdasarkan macam premi itu.
B. Metode Ceramah yang Menyenangkan
Metode ceramah yang monoton, memanglah dirasakan sangat membosankan bagi para peserta didiknya, apalagi bila disajikan dalam bentuk dongeng, yang berfungsi sebagai pengantar siswanya untuk tidur di malam yang hening, bahkan kadang kala si pengajar melenceng dari materi yang semestinya disampaikan, justru ia malah menceritakan tentang keadaan keluarganya, sampai ke para tetangganya, seolah-olah si guru itu curhat kepada muridnya. Hal ini serupoa dengan sebuah situs dari internet yang menceritakan
Ini adalah contoh nyata dari bumi belahan lain di dunia pendidikan, oleh karena itu kita sebagai calon guru masa depan yang baik, haruslah mempersiapkan segala sesuatunya, baik itu dari segi disiplin ilmu, pemahaman segala konsep dan teknik segala keterampilan, hubungan sosial terhadap lingkungan, serta akhlak dari personal kita sendiri, karena bukanlah tidak mungkin, kisah dosen tadi terjadi pada diri kita, menjadi seorang pengajar yang membosankan, tidak menarik, bahkan sampai dijuluki ‘monster’ oleh anak didik kita sendiri.
C. Model pembelajaran dengan pendekatan ekspositori
Pendekatan ekspositori merupakan suatu pendekatan yang ditinjau dari interaksi guru dengan siswa. Dalam pendekatan ini semata-mata siswa tinggal menerima apa yang disajikan oleh guru. Jadi guru telah mempersiapkan dan merencanakan secara sistimatis sehingga siswa dapat menerimanya dengan mudah.
Untuk itu dalam proses pembelajaran guru perlu melakukan apersepsi, yaitu mengingatkan kembali pengetahuan yang berkaitan dengan bahan ajar yang akan disajikan. Dalam pembelajaran ini guru menjelaskan panjang lebar, jika perlu guru membuat gambar maupun menggunakan media yang dianggap dapat lebih mempermudah siswa memahami bahan ajar yang disampaikan.
D. Model pembelajaran dengan Pendekatan Proses
Dalam pendekatan ini guru menciptakan kegiatan pembelajaran yang bervariasi sedemikian sehingga siswa terlibat secara aktif dalam berbagai pengalaman. Atas bimbingan guru siswa diminta untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai sendiri suatu kegiatan. Menurut Sagala (2003), dalam pendekatan proses ini yang dapat dilakukan siswa antara lain: mengamati gejala yang timbul, mengklasifikasikan, mengukur besaran-besarannya, mencari hubungan konsep konsep yang ada, mengenal adanya masalah, merumuskan masalah, merumuskan hipotesa, melakukan percobaan, menganalisis data dan menyimpulkan.Dalam pembelajaran PKn tidak semua aktifitas seperti tersebut diatas dilaksanakan.
E. Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Dalam menggunakan metode penemuan terbimbing, peranan guru adalah: menyatakan persoalan, kemudian membimbing siswa untuk menemukan penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah atau dengan lembar kerja. Siswa mengikuti pertunjuk dan menemukan sendiri penyelesaiannya.
Penemuan terbimbing biasanya dilakukan dengan bahan yang dikembangkan pembelajarannya secara induktif. Guru harus yakin benar bahwa bahan “yang ditemukan” sungguh secara matematis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Seringkali peranan guru dalam penemuan terbimbing diungkapkan dalam lembar kerja penemuan terbimbing. Lembar kerja ini biasanya digunakan dalam memberikan bimbingan kepada siswa menemukan konsep atau terutama prinsip (rumus, sifat). Penyusunan lembar kerja jenis ini biasanya
diawali dari guru menyiapkan secara lengkap tahap demi tahap dalam menjelaskan adanya suatu sifat atau prinsip atau rumus.
Penjelasan ini dituang dalam suatu tulisan secara lengkap. Kemudian dipikirkan, jika penjelasan itu dilakukan di kelas, dan dilakukan dengan tanya jawab, dicatat di bagian manakah yang kiranya perlu digunakan sebagai bahan tanya jawab. Bagian yang ditanyakan ini dapat berupa pendapat siswa tentang bahan yang lalu yang perlu digunakan dalam pengembangan konsep,atau pendapat siswa tentang tahapan yang perlu dipertimbangkan dalam melangkah, atau isian yang berupa bilangan atau kata kunci dalam menuju tujuan penemuan tersebut.
Bagian-bagian yang perlu ditanyakan tadilah yang perlu dihapus dari catatan penjelasan lengkap, dan dalam lembar kerja diungkapkan dalam bentuk tempat kosong atau titik-titik yang harus diisi oleh siswa Strategi Dan Pendekatan Dalam Model Investigasi Flenor (1974) membagi kegiatan guru menjadi 5 (lima) tahap:
- Apersepsi
- Investigasi
- Diskusi
- Penerapan dan
- Pengayaan
Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya.
Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan. Dalam hal investigasi yang dilaksanakan secara berkelompok, Lazarowitz dan kawan-kawannya (1988) dan juga Sharan dan para koleganya (Sharan et al, 1989; Sharan & Sharan, 1990) mendisain model kelompok investigasi yang memberikan kemungkinan siswa untuk melakukan berbagai pengalaman belajar.
Para siswa terlibat dalam setiap tahap kegiatan
- Mengidentifikasi topik dan mengorganisasi kelompoknya dalam “kelompok peneliti”,
- Merencanakan tugas pembelajaran,
- Melaksanakan penyelidikan,
- Menyiapkan laporan,
- Menyampaikan laporan akhir,
- Mengevaluasi program.
Diskusi kelompok maupun diskusi kelas merupakan hal yang sangat penting guna memberikan pengalaman mengemukakan dan menjelaskan segala hal yang mereka pikirkan dan membuka diri terhadap yang dipikirkan oleh teman mereka. Pengalaman yang baik seperti ini akan memotivasi siswa untuk belajar dan mau menyelidiki (menginvestigasi) lebih lanjut. Pengalaman bekerjasama dalam banyak hal sangat sesuai dengan semangat gotong royong yang telah berkembang sejak lama di bumi tercinta Indonesia ini. Hal ini perlu selalu dikembangkan dengan melatihkannya kepada para siswa.
Dalam kerja kelompok siswa, Malone dan Krismanto (1993) menemukan bahwa sebagian besar siswa menginginkan mereka sendirilah yang menentukan anggota kelompok kegiatan, dengan banyak anggota 3 − 5 orang siswa campuran putra dan putri dan dengan berbagai tingkat kemampuan siswa.
Hal ini sesuai dengan Sharan (1980) bahwa kelompok semacam itu memberikan efektifitas dalam peningkatan hasil belajar siswa.
Sikap dan kemauan siswa dalam menggunakan pendekatan investigasi tidak terlepas dari kegemaran siswa akan matematika, pemahaman siswa tentang kegunaan matematika dan keberanian siswa untuk membentuk sendiri pengetahuan matematika mereka. Ini sesuai dengan paham yang dikembangkan oleh para pakar dan peneliti serta penganut konstruktivisme. Karena ituseberapa jauh keberhasilan penggunaan pendekatan investigasi juga antara lain tergantung ketiga faktor. Karena itu maka guru juga perlu mengetahui seberapa jauh hal di atas dimiliki siswa disamping berusaha untuk lebih memberikan pemahaman kepada para siswa. Model Pembelajara
PENDIDIKAN KARAKTER AKHMAD SUDRAJAT
Tentang Pendidikan Karakter
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.
Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.
Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .
Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.
Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.
Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:
- Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
- Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
- Menunjukkan sikap percaya diri;
- Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
- Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
- Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
- Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
- Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
- Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;
- Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
- Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
- Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
- Menghargai karya seni dan budaya nasional;
- Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
- Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
- Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
- Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat;
- Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
- Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
- Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
- Memiliki jiwa kewirausahaan.
Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)




